Menu Tutup

Peresmian SPPG Butuh Dihadiri Tenaga Ahli Bidang Keuangan Badan Gizi Nasional (BGN) Kolonel (Purnawirawan) Kuswanto

WASP76NEWS.COM||BUTUH – PURWOREJO, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) didirikan Yayasan Bina Generasi Anak Bangsa yang terletak di Butuh Jl. Pasar Butuh no. 55 Ketundan RT. 03 RW. 06 Butuh Kecamatan Butuh Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah Resmi dibuka Wakil Bupati Purworejo Dion Agasi Setiabudi, S.I.Kom., M.Si. Senin, 13/04/2026.

Acara yang dihadiri Dandim 0708 Purworejo yang di wakili Pasitel, Danramil Butuh, Kapolsek Butuh, Camat Butuh, beberapa Kepala Desa di Kecamatan Butuh tamu undangan dan beberapa kepala sekolah serta tokoh masyarakat yang ada di sekitar dapur SPPG.

Dapur umum pusat yang dibentuk oleh Badan Gizi Nasional (BGN) di Butuh ini akan mendistribusikan makan bergizi gratis disekitar wilayah Kecamatan Butuh. Ketua Yayasan Bina Anak Bangsa Fauzi Ozreng menyampaikan,” bahwa dapur SPPG Butuh merupakan dapur keempat yang telah diresmikan dan dioperasikan oleh yayasannya.

Fauzi Ozreng kiri

Ia menjelaskan bahwa pengembangan SPPG di wilayah Kecamatan Butuh terus dilakukan secara bertahap. “Di Kecamatan Butuh terdapat sekitar tujuh titik dapur SPPG. Saat ini tiga dapur sudah beroperasi, sementara empat lainnya baru diresmikan, dan dua di antaranya masih dalam tahap persiapan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, khusus untuk SPPG Butuh, pihaknya menargetkan sekitar 1.750 penerima manfaat yang berasal dari sejumlah lembaga pendidikan yang telah menjalin kerja sama (MoU).

Sekolah-sekolah tersebut antara lain SMA Negeri 11 Purworejo, SMP Negeri Butuh, MI Imam Puro Butuh, MI Lubang, serta 11 sekolah dasar di wilayah sekitar.

“Program ini tidak hanya fokus pada pemenuhan gizi siswa, tetapi juga ke depan akan diperluas untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting,” jelasnya.

Ketua Yayasan Bina Generasi Anak Desa Memberikan Bibit Pohon Kelapa ke Mbah Naga dan Yusuf dari Pituruh

Dalam peresmian ini para tamu yang hadir akan mendapatkan bibit pohon kelapa Genjah Entok yang akan berbuah ±3 tahunan dengan postur pohon tidak tinggi hanya 3-4 meter saja dengan hasil ±95-140 butir per pohon pertahun.

Wakil Bupati Purworejo tengah

Wakil Bupati Purworejo Dion Agasi Setiabudi, S.I.Kom., M.Si.menyampaikan apresiasi atas berdirinya SPPG Butuh sebagai bagian dari percepatan program nasional pemenuhan gizi.

“Kami mengucapkan selamat dan sukses atas peresmian SPPG Butuh. Ini adalah langkah nyata dalam mendukung program pemerintah pusat untuk memastikan masyarakat mendapatkan asupan gizi yang cukup,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Purworejo melalui satuan tugas (satgas) berkomitmen untuk terus mendorong percepatan pembangunan dan operasional dapur SPPG di seluruh wilayah.

Menurutnya, saat ini cakupan penerima manfaat di Purworejo masih sekitar 50 persen dari target yang ditetapkan. “Kami tidak menghambat, justru mendorong agar seluruh dapur yang sudah masuk sistem bisa segera beroperasi. Tentu dalam pelaksanaannya perlu evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan,” jelasnya.

Dion juga menyoroti pentingnya pemenuhan berbagai aspek pendukung, seperti pengelolaan limbah, standar higienitas melalui dinas kesehatan, serta sertifikasi halal. Menurutnya, semua itu harus dipenuhi secara bertahap seiring berjalannya program.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat, distribusi layanan SPPG akan diperluas tidak hanya untuk pelajar, tetapi juga menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

“Ini adalah langkah strategis untuk menurunkan angka stunting dan meningkatkan kualitas generasi masa depan,” imbuhnya.

Sementara itu, Staf Ahli Badan Gizi Nasional (BGN), Kolonel (Purn) Kuswanto, menekankan pentingnya semangat kebersamaan dan rasa syukur dalam menjalankan program tersebut.

Ia menyebut bahwa keberadaan dapur SPPG merupakan bentuk perjuangan kolektif untuk masa depan bangsa.

“Orang yang mengelola dapur ini adalah pejuang. Ini misi mulia karena yang menerima manfaat adalah anak-anak kita, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita,” katanya.

Kuswanto juga mengingatkan bahwa dalam pelaksanaan program yang masih relatif baru, berbagai kekurangan adalah hal yang wajar. Oleh karena itu, diperlukan keterbukaan terhadap kritik dan masukan dari masyarakat sebagai bahan evaluasi.

Ia juga menyoroti pentingnya prioritas layanan bagi kelompok 3B (ibu hamil, ibu menyusui, dan balita), yang menurutnya masih belum sepenuhnya optimal di lapangan.

“Padahal ini yang paling penting, karena menentukan kualitas generasi ke depan. Asupan gizi pada masa kehamilan sangat berpengaruh terhadap lahirnya generasi unggul,” tegasnya.

Berdasarkan data yang disampaikan, saat ini di Kabupaten Purworejo terdapat sekitar 60 dapur SPPG yang telah berdiri dan telah beroperasi. Jika ditambah yang masih proses ada sekitar 116 SPPG.

Jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah seiring proses pembangunan dan persiapan dapur lainnya.

Program SPPG sendiri merupakan bagian dari upaya nasional dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan gizi yang merata.

Indonesia saat ini tengah mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain yang telah lebih dahulu menjalankan program serupa.

“Negara lain sudah memulai sejak lama, bahkan ada yang sejak ratusan tahun lalu. Indonesia baru memulai beberapa tahun terakhir, sehingga perlu kerja keras bersama untuk mengejar ketertinggalan,” jelas Kuswanto.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, yayasan, relawan, dan masyarakat, keberadaan SPPG diharapkan tidak hanya menjadi solusi pemenuhan gizi, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi desa serta fondasi dalam mewujudkan generasi emas Indonesia tahun 2045.

Program ini diharapkan terus berkembang dan memberikan manfaat luas, tidak hanya bagi penerima langsung, tetapi juga bagi seluruh ekosistem masyarakat desa yang terlibat di dalamnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *