Menu Tutup

BATIK DEWA LOWANO, Berawal Cinta Seni Berujung Profesi dan Prestasi

WASP76NEWS.COM|| Purworejo – Dyah Wahyu Ristyani, anggota persit kartika Candra Kirana Cabang XXIX Kebumen, Korem 072 Pamungkas, Kodam IV Diponegoro, istri dari Serma Munharis Suryo Hindriyo, saat ini bertugas di Koramil 06 Sruweng, Kodim 0709 Kebumen Jawa Tengah. profesi Dyah sebagai tenaga pendidik di SMP N 9 Purworejo.

Ketika ditemui media di kediaman Batik Dewa Loano Kesambi, Loano, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah 54181 Dyah menyampaikan,” menjadi seorang Pengrajin batik semula tak terbayangkan sama sekali. Sebagai seorang guru honorer di tahun 2003 awal mula mengabdi di SMP N 25 Purworejo, sebagai English teacher, relate jurusan kami PBI. Akan tetapi karena jam mengajar yang kurang, akhirnya mengajar apapun yang diberikan sekolah, salah satunya mapel seni budaya. Darah seni yang mengalir dari keluarga, menjadikan saya tidak begitu sulit memegang mapel walaupun bukan bidangnya. Kebiasaan berkutat di bidang seni membiasakan diri selalu beradaptasi dengan berbagai cabang seni mulai singing, dancing, painting, handicraft. Hingga pada suatu ketika, suami berdinas di kabupaten Pekalongan sebagai Babinsa di kecamatan Kedungwuni, di mana daerah tersebut dan lingkungannya merupakan daerah pengrajin batik yang memang menjadi mata pencaharian.

Setiap kali pulang ke rumah, suami selalu membawakan produk batik dari Pekalongan, dan Dyah mencoba menawarkan ke teman – teman kantor atau lingkungan sekitar. Dan ternyata mendapat atensi yang baik. Semakin banyak pesanan. Dyah merasa senang mendapatkan penghasilan tambahan yang lumayan.

Pada tahun awal 2011, mulai viral batik dengan motif icon atau kearifan lokal, di kabupaten tetangga. Yaitu Kulonprogo yang terkenal dengan motif Gebleg Renteng. Dari sana Dyah mendapatkan ide untuk membuat sketsa motif batik yang memuat icon kearifan lokal.

Dyah mengajak siswanya di sekolah untuk membuat motif batik icon, dan dari siswanya , muncul beberapa ide motif yang kemudian dikembangkan menjadi desain motif batik cap yang ada icon kearifan lokalnya. Setelah jadi, Dyah memesan canting cap di Pekalongan untuk kita buat motif batik yang akan diaplikasikan di kain mori. Saat itu dirinya berembug dengan Haris (panggil sehari-hari suami Dyah) untuk membuat tempat produksi batik di rumah.

Dengan modal sedikit nekat, karena belum tau prospeknya bagaimana, Kami mengundang 4 orang ahli batik cap dan pandai di bidang setting tempat untuk mendampingi kami di rumah. Mereka berasal dari Pekalongan. Tempat sederhana standar untuk produksi batik sudah jadi, kami mulai membuat batik cap sendiri.

Selama hampir satu tahun kami didampingi sembari Dyah belajar mencanting tangan atau membatik tulis secara autodidak di Gerainya Batik Dewa Loano.

Di awal merasa berat, penuh tantangan, trial n error berkali – kali karena tidak melalui pelatihan, tapi pada akhirnya menemukan feel sendiri dalam memegang canting dan kain, memperkirakan panasnya malam, torehan malam benar,dan lain sebagainya. Pada tahun 2014 saya mutasi ke SMP N 9 Purworejo sebagai CPNS.

Seiring perpindahan tempat kerja, teman semakin banyak, pesanan batik juga mulai bertambah. Dan pada sekitar 2016 saya memberanikan diri mengikuti sertifikasi pembatik tulis yang diadakan oleh BNSP dan alhamdulillah lolos dengan nilai baik.

Sejak saat itu rasa percaya diri muncul dan semangat untuk terus membatik. Kelengkapan usaha mulai kami persiapkan , yaitu usaha kami daftarkan dalam bentuk CV, yaitu CV Dewa Collections, diambil dari nama brand kami Dewa Lowano, yang berasal dari nama anak sulung kami Andy Sadewa, untuk ke depannya mencari peluang – peluang usaha.

Benar saja, berbagai pengadaan barang dan jasa kami terima, sebagai penyedia batik Kaprajan Kabupaten Purworejo, penyedia kebutuhan seragam instansi, pelatihan – pelatihan membatik, dan lain sebagainya. Berbagai dukungan dari masyarakat bermunculan, termasuk dari ibu ketua Persit kami di Kebumen, teman – teman persit juga.

Memenangkan berbagai lomba fashion batik, diikutkan berbagai pameran UMKM anggota persit maupun pemda setempat dan sampai pada terpilih satu – satunya UMKM Persit untuk mengikuti Event bergengsi Persit Bisa mewakili KODAM IV Diponegoro yang diadakan oleh Persit Pusat pertama kali di tahun 2025.

Dukungan dan bimbingan dari Ibu ketua cabang, Ibu Danrem, Ibu Pangdam, membuat kami semangat untuk terus berkarya, dan di tahun 2026 ini, kami Kembali ditunjuk untuk mengikuti event Persit Bisa tahun ke 2 mewakili KODAM IV Diponegoro bersama beberapa rekan Persit lain yang mempunyai karya yang indah juga.

Dyah juga memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk belajar membatik, baik perorangan atau kelompok bisa langsung datang ke Batik Dewa Loano Kesambi, Loano, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah 54181.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *