WASP76NEWS.COM||Surabaya – Di pagi yang cerah, antrean warga tampak tertib di halaman Satpas Colombo Surabaya. Tak ada wajah tegang atau keluhan keras yang biasa menghiasi tempat pelayanan publik. Sebaliknya, senyum petugas menyambut setiap pemohon SIM yang datang, memberi kesan bersahabat dan menenangkan. Inilah wajah baru pelayanan Polri—ramah, humanis, dan transparan.

Bagi banyak warga, mengurus SIM dulu identik dengan proses yang melelahkan. Namun kini, suasananya berubah total. Di bawah kepemimpinan AKBP Galih Bayu Aditya , Satlantas Polrestabes Surabaya terus berbenah. Konsep pelayanan ramah dan humanis dijadikan budaya kerja, bukan sekadar slogan.
“Pelayanan publik harus mengedepankan empati. Kami ingin masyarakat merasa dihormati, bukan sekadar dilayani,” tutur AKBP Galih Bayu Aditya saat ditemui di ruang kerjanya. Ia menegaskan, setiap anggota Satpas Colombo mendapat pelatihan tentang etika pelayanan, komunikasi efektif, dan pentingnya sikap profesional dalam menghadapi masyarakat dari berbagai latar belakang.
Tidak hanya sikap petugas yang berubah, fasilitas pun kini jauh lebih manusiawi. Di ruang tunggu, tersedia kursi nyaman, pendingin ruangan, hingga layanan fotokopi gratis untuk mempermudah proses administrasi. Bagi pemohon lanjut usia dan penyandang disabilitas, tersedia jalur khusus dan pendampingan langsung dari petugas.
Teknologi juga menjadi bagian penting dalam pembaruan layanan. Sistem pendaftaran online dan pembayaran non-tunai diterapkan untuk memangkas waktu antre, sekaligus menutup celah praktik percaloan yang selama ini mencoreng citra pelayanan SIM. “Kami ingin masyarakat tahu bahwa semua bisa dilakukan sendiri dengan mudah, tanpa harus bayar lebih,” ujar salah satu petugas pelayanan.
Suasana kekeluargaan di Satpas Colombo terasa hingga ke ruang ujian praktik. Petugas tak lagi hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga pembimbing yang memberi arahan dengan sabar. “Kalau gagal, jangan khawatir, bisa ulang lagi. Yang penting tetap semangat,” ucap seorang petugas kepada peserta ujian yang tampak gugup.
Semangat perubahan ini selaras dengan visi Polri Presisi, yang menempatkan pelayanan publik sebagai garda terdepan dalam membangun kepercayaan masyarakat. Bagi Satpas Colombo, komitmen ramah dan humanis bukan sekadar kewajiban institusi, melainkan bentuk tanggung jawab moral kepada publik.

Dengan pendekatan yang hangat, profesional, dan bersih dari pungli, Satpas Colombo Surabaya kini menjadi contoh nyata bagaimana reformasi pelayanan publik bisa berjalan dengan hati. Sebuah bukti bahwa di balik seragam dan prosedur, masih ada nilai-nilai kemanusiaan yang dijaga—senyum, empati, dan ketulusan melayani. (Mahmudi)