WASP76NEWS.COM|| Purworejo – Persoalan dugaan bullying di lingkungan Sekolah Al-Madinah Purworejo kembali menjadi sorotan. Pertemuan antara pihak yayasan, sekolah, dan orang tua wali murid yang digelar Rabu (26/8/2026) sempat memunculkan pernyataan yang kemudian dipertanyakan oleh orang tua korban.
Dalam pertemuan tersebut, orang tua korban menyampaikan harapannya agar anaknya mendapatkan pendampingan dari pihak Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) hingga kondisi psikologisnya kembali pulih.
“Saya berharap anak saya ada pendampingan PPA sampai mental anak saya kembali. Tapi kalau dari hasil pendampingan anak saya meminta pindah sekolah, tolong dipermudah dan jangan dipersulit,” ungkap orang tua korban.
Namun, menurut pengakuan orang tua korban, dalam forum tersebut muncul pernyataan dari salah satu wali murid yang diketahui berprofesi sebagai Sekdes.
Orang tua korban menuturkan, wali murid tersebut mengaku telah melaporkan persoalan tersebut kepada “ketua wartawan Purworejo” serta menyebut dirinya memiliki kekuatan karena telah berkoordinasi dengan pihak pemerintahan melalui Ikatan Sekretaris Desa se-Purworejo.
Pernyataan tersebut sontak menimbulkan tanda tanya bagi orang tua korban.
“Sampai sekarang saya tidak tahu maksud dan tujuannya mengatakan seperti itu,” ujarnya.
Ia mempertanyakan apakah pernyataan tersebut sekadar bentuk penyampaian informasi mengenai koordinasi yang dilakukan, atau justru dimaksudkan sebagai bentuk tekanan terhadap dirinya agar tidak melanjutkan persoalan yang menyangkut kondisi anaknya.
Koordinasi atau Tekanan?
Pertanyaan tersebut kini menjadi bagian yang perlu diperjelas. Sebab, penyebutan dukungan dari pihak tertentu dalam sebuah forum penyelesaian persoalan sekolah berpotensi menimbulkan persepsi berbeda di antara para pihak.
Orang tua korban pun mempertanyakan, apabila benar ada koordinasi dengan pihak ketua wartawan maupun paguyuban sekretaris desa, koordinasi tersebut dilakukan dalam kapasitas dan kepentingan apa.
“Apakah maksudnya menakut-nakuti bahwa dia punya dukungan besar, Atau memang ketua wartawan dan paguyuban sekdes se-Purworejo yang dimaksud benar-benar memberikan dukungan,
Saya tidak tahu,ungkapnya.
Meski demikian, orang tua korban menegaskan dirinya tidak ingin mencari konflik dengan pihak mana pun. Ia mengaku hanya ingin memastikan persoalan yang dialami anaknya mendapatkan penanganan yang tepat dan tidak berdampak lebih jauh terhadap kondisi psikologis korban.
Menurutnya, apabila memang ada koordinasi atau dukungan dari organisasi maupun pihak tertentu, sebaiknya hal tersebut dijelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Sebaliknya, jika pernyataan tersebut merupakan ucapan pribadi salah satu wali murid, klarifikasi juga diperlukan agar nama organisasi kewartawanan maupun paguyuban aparatur desa tidak ikut terseret dalam polemik internal sekolah.
Sementara itu, saat awak media melakukan silaturahmi sekaligus mengkonfirmasi kepada Kepala Sekolah Al-Madinah pada Kamis (27/8/2026), kepala sekolah tidak berada di tempat.
kemudian awak media ditemui oleh Guru BP, Mustaqim, didampingi Ristama yang sebelumnya turut hadir dalam proses mediasi sebagai No tulen.
Pihak sekolah membenarkan bahwa telah terjadi persoalan yang melibatkan antarsiswa. Menurut pihak sekolah, persoalan tersebut juga telah dibahas melalui musyawarah bersama para pihak dan telah terdapat kesepakatan untuk menyelesaikannya.
“Pihak sekolah bukan mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Kami berharap semua pihak bisa legowo,” ujar Ristama.
Ia menambahkan, sebagai bagian dari upaya penyelesaian, dalam waktu dekat pihak sekolah berencana melakukan silaturahmi ke rumah korban bersama siswa dan sejumlah guru.
Sementara itu, Guru BP Mustaqim mengatakan pihak sekolah juga telah berkomunikasi dengan PPA untuk memberikan pendampingan kepada korban untuk supaya mental anak kembali baik.
“Kepala sekolah juga sudah menghubungi pihak PPA untuk mendampingi korban. Dan apabila korban memang sudah tidak mau sekolah di sini, kami akan membantu proses perpindahannya,” ungkap Mustaqim.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pihak sekolah membuka ruang penyelesaian melalui pendampingan dan komunikasi dengan keluarga korban.
Namun, di tengah upaya tersebut, pertanyaan mengenai pernyataan “punya kekuatan” serta klaim adanya dukungan dari pihak luar masih menjadi tanda tanya yang belum mendapatkan penjelasan secara terang. ( RED )