WAS76NEWS.COM||Purworejo — Ambruknya jembatan gantung penghubung antar desa di Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo, menjadi pukulan serius bagi aktivitas masyarakat. Infrastruktur vital yang selama ini menghubungkan Desa Lubanglor, Tegalgondo, Polomarto, Lubangindangan, Lubangsampang, hingga Lubangkidul itu kini tidak dapat difungsikan, menyebabkan terganggunya mobilitas warga di berbagai sektor.

Peristiwa tersebut tidak hanya berdampak pada aktivitas ekonomi dan pertanian, tetapi juga akses pendidikan, khususnya bagi pelajar yang setiap hari bergantung pada jalur tersebut. Sukono, warga Desa Lubanglor, menyampaikan bahwa sejak jembatan tidak dapat digunakan, warga harus menempuh jalur alternatif yang jauh lebih panjang.
“Warga terpaksa memutar sejauh 5 sampai 6 kilometer. Ini sangat memberatkan, baik dari segi waktu maupun biaya. Aktivitas ekonomi, pertanian, dan pendidikan jelas terdampak,” ujarnya. Berdasarkan keterangan warga, jembatan ambruk saat masih digunakan sebagai jalur penyeberangan. Ahmad Khusnan,

Kepala Dusun sekaligus Ketua Kelompok Tani Desa Lubanglor, mengungkapkan momen kritis saat kejadian berlangsung.
“Jembatan itu ambruk saat sedang dilewati anak-anak MI. Bahkan ada yang sudah setengah menyeberang. Mereka terpisah di dua sisi, sebagian di timur dan sebagian di barat. Yang tidak bisa melanjutkan terpaksa memutar lewat Lubangdukuh,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun kejadian itu menjadi peringatan serius terkait kondisi infrastruktur yang digunakan masyarakat setiap hari.
“Ini harus menjadi perhatian bersama. Infrastruktur seperti ini menyangkut keselamatan warga,” tambahnya.
Jembatan tersebut diketahui memiliki peran strategis sebagai jalur utama penghubung antar desa dengan tingkat mobilitas yang tinggi. Selain sebagai akses warga, jembatan juga menjadi jalur distribusi hasil pertanian serta mendukung kegiatan ekonomi lokal.
Dalam kondisi saat ini, warga menilai perlunya langkah cepat dan terukur dari pemerintah. Selain perbaikan darurat, masyarakat juga mempertanyakan keberlanjutan program pembangunan infrastruktur, termasuk yang dikenal dengan istilah “Jembatan Merah Putih”.
Ahmad Khusnan berharap pemerintah dapat memprioritaskan perbaikan jembatan tersebut dalam program pembangunan yang ada. “Kalau memang ada program seperti itu, seharusnya jembatan ini masuk prioritas. Karena ini benar-benar dibutuhkan masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Lubanglor, Slamet Iskandar, meminta agar pemerintah tidak berhenti pada tahap perencanaan semata. “Kondisi ini sudah jelas berdampak langsung ke masyarakat. Harus ada tindakan nyata, bukan hanya rencana. Kami berharap ada percepatan penanganan,” ujarnya.
Hingga berita ini dirilis, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai waktu perbaikan maupun skema penanganan jembatan tersebut. Warga berharap pemerintah daerah maupun pusat segera turun tangan untuk memastikan akses antar desa kembali normal.
Peristiwa ini sekaligus menjadi catatan penting akan urgensi pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur di wilayah pedesaan. Kecepatan dan ketepatan respons dinilai menjadi kunci dalam menjawab kebutuhan masyarakat di lapangan. ( Alx )