WASP76NEWS.COM||Surabaya – Suasana Rutan Kelas I Surabaya berubah tegang pada Sabtu (11/10/2025) dini hari. Tepat pukul 00.01 WIB, tim gabungan dari Rutan, TNI, dan Polri bergerak cepat melakukan penggeledahan di Blok Adikara. Kegiatan ini berlangsung hingga pukul 00.30 WIB di bawah pengawasan langsung Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur dan Kepala Rutan Surabaya, Tomi Elyus.

Operasi yang digelar tengah malam itu bukan tanpa alasan. Berdasarkan hasil pemantauan internal, ada peningkatan aktivitas mencurigakan di beberapa blok hunian selama dua pekan terakhir. Dugaan kuat muncul bahwa sejumlah warga binaan mencoba menyelundupkan barang terlarang melalui jalur penitipan barang atau pemanfaatan celah keamanan di area dapur dan ruang kunjungan.
Namun hasilnya, nihil. Tak satu pun handphone, narkoba, ataupun benda tajam ditemukan. Semua warga binaan bersikap kooperatif, bahkan ikut membantu petugas memeriksa beberapa area yang dianggap rawan. “Kami ingin memastikan bahwa Rutan Surabaya benar-benar bersih dari praktik penyelundupan. Hasil malam ini menunjukkan tingkat kepatuhan warga binaan sudah jauh lebih baik,” ujar Tomi Elyus dalam keterangan resminya.
Meski begitu, beberapa sumber internal menyebut, operasi ini tidak semata penggeledahan rutin, tetapi juga uji integritas terhadap petugas pengamanan. Pengawasan ekstra melibatkan unsur TNI dan Polri dilakukan untuk memastikan tidak ada keterlibatan oknum dalam peredaran barang terlarang di dalam rutan. “Kalau penggeledahan dilakukan oleh pihak internal saja, sulit memastikan objektivitasnya. Keterlibatan TNI dan Polri memberi efek psikologis — bukan hanya bagi warga binaan, tapi juga bagi petugas sendiri,” ujar salah satu sumber yang enggan disebutkan namanya.
Dalam investigasi lanjutan, ditemukan bahwa modus penyelundupan barang ke dalam rutan kini makin canggih. Barang bisa disamarkan lewat kemasan makanan, dilempar dari luar tembok dengan alat pelontar, hingga dikirim melalui jasa penitipan yang sudah “disetting” oleh oknum luar. Sementara di sisi lain, masih ada dugaan keterlibatan pihak internal yang menjadi mata rantai peredaran barang ilegal.
Kementerian Hukum dan HAM melalui Ditjen Pemasyarakatan menilai langkah penggeledahan malam hari ini sebagai bagian dari strategi pengawasan mendadak (inspeksi tak terjadwal) untuk memetakan potensi kebocoran sistem keamanan. “Ini bukan hanya soal hasil temuan, tapi tentang memastikan sistem pengawasan bekerja dan efek gentar tetap hidup,” ungkap seorang pejabat Kanwil Jatim yang ikut dalam kegiatan tersebut.
Rutan Kelas I Surabaya sebelumnya pernah disorot publik karena beberapa kali ditemukan ponsel dan narkoba dalam penggeledahan rutin. Namun, operasi kali ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengendalian keamanan. Tetap saja, para pengamat pemasyarakatan menilai perlu langkah berkelanjutan, bukan sekadar tindakan sesaat.
Penggeledahan dini hari ini, meski tanpa hasil temuan, menjadi indikator penting dari proses pembersihan internal. Ia menegaskan bahwa keamanan pemasyarakatan tidak hanya diukur dari ada-tidaknya barang terlarang, melainkan dari transparansi dan konsistensi sistem pengawasan itu sendiri.

Kini, tantangan terbesar bagi Rutan Surabaya adalah menjaga momentum ini — memastikan agar operasi semacam ini tidak berhenti di tingkat seremonial, tapi benar-benar menjadi budaya pengawasan permanen di balik jeruji. (Mahmudi)