WASP76NEWS.COM||Purworejo – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo meminta seluruh SPPG penyedia Makan Bergizi Gratis (MBG) memperketat kontrol kualitas, buntut temuan lintah mati di menu tumis sawi SMPN 2 Purworejo, pada Senin, 27 April 2026. Program MBG di sekolah tersebut baru berjalan dua minggu.

Kepala Dindikbud Purworejo Yudhie Agung Prihatno menegaskan, bahwa insiden tersebut tidak boleh terulang.
“Makanan yang disajikan harus benar-benar layak, higienis, dan bebas dari kontaminasi. Kontrol kualitas di SPPG harus ditingkatkan,” tegasnya saat dikonfirmasi pada Selasa, 28 April 2026.

Sementara itu, Wakasek Humas SMPN 2 Purworejo, Kofsatun Mardiyah mengatakan, bahwa temuan tersebut awalnya dilaporkan oleh seorang siswa kelas IX.
“Benda mencurigakan itu ada di menu tumis sawi dan wortel. Bentuknya kecil dan menyerupai lintah dalam kondisi sudah mati. Kami belum bisa pastikan hewan apa,” ujar Kofsatun Mardiyah.
Pihak sekolah langsung menarik makanan dan melapor ke SPPG Mranti selaku penyedia. Makanan diganti hari itu juga. “Hari berikutnya distribusi normal, tidak ada laporan serupa,” tambah Kofsatun.
Selanjutnya, Kepala SPPG Mranti Haryo Bagas Wicaksono mengakui kelalaian tersebut.

“Kemungkinan dari sayuran yang kurang teliti saat pembersihan. Ini evaluasi bagi kami, meski sudah ada pengecekan di tiap divisi,” katanya.
Diketahui, bahwa SPPG Mranti melayani 2.500–2.700 siswa di Purworejo dengan 47 tenaga kerja. Di SMPN 2 Purworejo, penerima MBG mencapai 640 siswa kelas VII–IX.
Dindikbud sudah berkoordinasi dengan koordinator SPPG untuk evaluasi menyeluruh. SPPG Mranti menggelar rapat internal dan memperketat SOP pengawasan. Sekolah diminta aktif cek makanan dan mendorong siswa memeriksa sebelum makan.
Yudhie menambahkan, bahwa program MBG di SMPN 2 Purworejo baru berjalan dua minggu. Meski tidak menimbulkan dampak kesehatan, ia menekankan kewaspadaan dini.
“Kolaborasi sekolah dan penyedia penting. Jika ada yang tidak sesuai, segera lapor untuk evaluasi,” tegasnya.
Insiden tersebut menegaskan bahwa keberhasilan MBG tidak cukup diukur dari distribusi, tapi juga keamanan pangan. Satu kelalaian di dapur SPPG bisa menggerus kepercayaan 640 siswa dan orang tua.